Sebagai bentuk dari fungsi mahasiswa sebagai agent of changes maka mahasiswa haruslah berilmu yang bermanfaat. Dimaksudkan bahwa di atas kata mahasiswa maka sudah bukan lagi berpikir seperti ketika menjadi siswa, setingkat bermaqom lebih tinggi daripada siswa. Maka dari itu, mahasiswa diharapkan dapat membawa sebuah perubahan karena sebuah pengamalan dari beberapa ilmu yang mereka dapatkan dalam bangku sekolah hingga bangku kuliah.
Apabila dalam taraf pembelajaran sekolah, sebagai siswa masih suka membandel, nakal, bahkan diluar kontrol dari semua itu. Tetapi beranjak ke maqomat yang lebih tinggi sebagai mahasiswa maka sudah selayaknya hal-hal tersebut mulai dihilangkan. Perubahan harus berada di titik tumpu dalam dirinya sendiri. Ketika sudah dapat merubah kebiasaan-kebiasaan buruk maka mahasiswa tingkat ini mendapatkan julukan agent of changes. Tidak semua mahasiswa dapat menjadi agent of changes karena keterbatasan pribadinya untuk mampu merubah dirinya sendiri.
Niat merupakan hal yang mendasar harus dilakukan oleh mahasiswa (orang yang belajar atau menuntut ilmu). Niat menjadi paradigma mendasar karena mencari ridho Allah itu merupakan hal utama dan hanya karena Allah-lah ilmu itu diberikan. Mahasiswa tidak hanya dapat memberontak dengan daya kritisnya tetapi harus peka juga terhadap nilai spiritualitas sebagai penyeimbang daya tawar dalam diri mahasiswa sendiri.
Menghilangkan kebodohan adalah alur kedua paradigma yang ditekankan kepada mahasiswa. Dalam hal ini terdapat dua cabang nilai kebodohan, pertama adalah nilai kebodohan dalam diri sendiri dan kedua adalah nilai kebodohan yang terdapat dalam masyarakat. Seperti inilah alur utama dari mahasiswa. Mengapa mahasiswa harus aktif dan harus menjadi agent of changes. Dengan ilmu yang telah dibawa sejak bangku sekolah hingga bangku kuliah maka dengan itu sepantasnya sebagai mahasiswa adalah orang yang berilmu. Tetapi dalam hal ini mahasiswa juga dituntut untuk beramal berupa mengajarkan ilmu itu kepada orang lain atau masyarakat. Organisasi mahasiswa salah satu jalan yang berada di alur paradigma nomor dua ini. Jadi, setelah mendapat ridho dari Allah, mahasiswa juga harus bermanfaat bagi masyarakat dengan ilmunya tersebut.
Aspek yang berhubungan antara mahasiswa dengan spiritual (niat) tentu akan menghasilkan alur paradigma ketiga yakni menghidupkan dan mengokohkan agama. Mahasiswa yang seimbang ilmunya antara dunia dan akhiratnya tentu menjadi daya tawar bagi dirinya. Kokohnya spiritualitas dalam diri individu mahasiswa tentu menjadikan dirinya matang. Individu tersebut pun akan kerap berkumpul dan berkelompok pada majelis-majelis taklim ataupun sholawat. Hal ini tentu menghidupkan agama dan juga mengokohkan agama bahkan akan berdampak pada kokohnya suatu bangsa atau negara. Hal itu didasari oleh Hubbul Wathon minal Iman, keimanan atau keteguhan agama mahasiswa pun akan berpengaruh pada kecintaannya kepada bangsa dan negaranya.
Paradigma terakhir atau keempat adalah jaminan desa akhirat. Sesuatu perbuatan yang bermanfaat bagi ilmu yang diridhoi oleh Allah adalah sebuah jaminan atas kehidupan di akhirat kelak. Terlebih ilmu tersebut bermanfaat bagi khalayak umum yang semula bodoh menjadi berpengetahuan. Hal yang diterapkan oleh mahasiswa sebagai agent of changes. Allah SWT tentu menganjar hal tersebut sebagai perbuatan yang positif, amal yang diridhoi olehNya melalui ilmu-ilmu yang Ia berikan.
Untuk itulah mahasiswa haruslah bersyukur kepada Allah atas ilmu-ilmu yang Ia berikan karena sejatinya manusia diberikan akal untuk berpikir dan mengolah ilmu. Daya pikir akan berpengaruh pada tingkatan kepandaian, maka setiap orang tidaklah sama, untuk itulah mengapa harus bersyukur. Setiap mahasiswa akan mempunyai kepandaian yang berbeda-beda, bersyukur adalah salah satu cara agar tidak timbulnya rasa iri kepada mahasiswa lain yang lebih pandai. Selain itu pun harus bersyukur atas karunia badan yang sehat, karena ada badan yang sehat manusia dapat bersekolah hingga merasakan kuliah. Keterbatasan sehat tentu akan menjadi penghambat dalam mencari ilmu. Untuk itulah harus disyukuri atas nikmat badan yang sehat.
Salam Santri Kampus dan Santri Kampung
Daftar Pustaka : Kitab Qomi' Ath Thughyan
Oleh : Mazdan Maftukha (KMNU UII)
Menemukan kesalahan pada unggahan ini? Yuk sampaikan pada kami melalui email!